16 Mei 2013

Konsep Kebaikan Mu'tazilah dalam Qaryah Thayyibah

Soleman Siregar*

Dari landasan epistemologis tentang kebaikan dan keburukan, ada dua pengertian terhadapnya. Pertama, kebaikan dan keburukan hanya dapat diketahui oleh wahyu. Pengertian ini terdapat pada teologi Asy’ariah. Kedua, kebaikan dan keburukan bisa diketahui oleh akal manusia tanpa adanya wahyu. Dan pengertian ini diadopsi oleh teologi rasional Mu’tazilah.

Pada pengertian yang pertama, kebaikan dan keburukan seseorang hanya dapat diketahui dengan agama (wahyu). Pada ukuran seperti ini, agama dipahami sebagai bimbingan formal dalam mengajarkan umat manusia kepada jalan kebaikan. Jalan kebaikan ini dilaksanakan atau dituju dari pengetahuan tentang pesan-pesan Tuhan. Dalam realitas-empiris, nabi atau utusan Tuhan-lah yang menjadi manusia pertama dalam menyampaikan pesan-pesan Tuhan tersebut. Jadi, pada pengertian yang pertama ini kebaikan dan keburukan hanya dapat diketahui oleh wahyu Tuhan dan disampaikan kepada umat manusia melalui perantara nabi atau utusan Tuhan. Maka, kebaikan dan keburukan tidak bisa dipahami atau diketahui oleh manusia hanya dengan akalnya, melainkan harus dengan adanya wahyu. Dengan demikian, pada proporsi seperti ini, manusia seakan-akan hanya tunduk dan patuh pada agama.

4 April 2013

Wawancara Bersama Ustadz Farhat Bas



Khazanah Dakwah Islam: Hz.Sulaiman Hilmi Tunahan Memilih Kebenaran daripada Kehidupannya

Khazanah dakwah Islam sebenarnya telah lama mengalir tanpa halangan karena Indonesia sanagat terbuka dengan berbagai macam kepercayaan, budaya, paham, bahkan agama yang cukup berwarna sehingga nuansa plural pun tak bisa di pungkiri. Usaha yang dilakukan Sulaiman Hilmi Tunahan (sebagai ulama Turki) mendakwakan Islam mulai dari Turki menyebar ke Eropa khususnya Jerrman, Belanda, Austria dll. Itu semua karena murid-murid dari Sulaman Hilmi yang telah belajar kepada beliau terus melakukan dakwah tidak hanya di Turki akan tetapi di tugaskan untuk berdakwah keluar Turki. Dan inilah yang menjadikan murid-murid Sulaiman Hilmi berada di hampir seluruh dunia hingga saat ini. Bagaimankah hal tersebut bisa terjadi sungguh sebuah Kharamah yang luar biasa? Untuk mengetahui hal tersebut, Imam Hidayat dari Jurusan Ilmu Agama Islam berbincang-bincang dengan Ferhat Bas (Pengasuh Pondok Pesantren Sulaimaniyah, UICCI, Jakarta). Berikut petikannya.

            Apakah yang menjadi esensi atau inti dari dakwah yang ingin disampaikan oleh Ustadz Farhat? 
Pertama tentu yang kedatangan kami ke Indonesia tentu dalam tujuan dakwah Islamiyah khususnya apa yang kita pelajari di pesantren-persantren selama kita tinggal di Turki. Jadi apa yang ingin kita lakukan itu adalah mengajarkan akhlak al-karimah yakni akhlak Rasulullah saw. kepada masyarakat muslim Indonesia khususnya kepada generasi baru Islam untuk mencetak generasi berilmu dan bertaqwa.

Berangkat dari situlah saya ingin mengetahui beberapa hal, selama ini sudah banyak orang yang mengenal Sulaiman Hilmi Tunahan khususnya di Turki bahwa beliau sebagai ulama dan mursyid yang memiliki banyak murid dan pengaruh di dunia keislaman. Menurut Ustadz Farhat sebagai salah satu murid yang sedang berhidzmat/berdakwah di Indonesia, apa sajakah hal-hal yang patut diambil sebagai teladan dari beliau dan patut mendapat apresiasi?
Sulaiman Hilmi Tunahan beliau adalah seorang ulama bersar yang terkemuka di Turki, dimana beliau berusaha keras untuk mengajarkan Islam di Turki, dimana pada  zamannya itu memang dilarang pengajaran atau pendidikan agama di Turki dilarang karena Turki baru saja keluar dari perang dan sudah di sekulerkan. Dalam keadaan yang susah payah beliau berusaha mengajarkan akhlak al-karimah dan pendidikan keagamaan kepada masyarakat muslim walaupun secara pemerintahan tidak boleh atau dilarang pendidikan agama Islam di Turki, beliau boleh dikatakan mengalami tantangan yang luar biasa sebagaiman Rasulullah saw. pada zamannya sudah mengalami tantangan yang sangat besar dalam menegakan agama Islam, maka itu kami percaya Sulaiman Hilmi Tunahan sebagai da’i yakni seorang ahli dakwah yang mendapat tantangan luar biasa dan beliau tidak pernah patah semangat dan beliau itu tidak pernah mengkomersilkan pendidikan agama itu. Melainkan beliau yang membantu kepada mereka yang mau belajar agama Islam dia mengambil dari uangnya sendiri, uang keluarganya. Maka itu sebagai contoh suriteladan buat kita beliau patut perlu kita contoh apa yang kita lihat dalam dakwah Islamiyah yang beliau lakukan selama beliau hidup. Maka itu dakwah yang mulai dari nol dari satu sekarang lahir ribuan pesantren yang tersebar di seluruh dunia, itu salah satu dihasilkan selama beliau hidup untuk dakwah Islam.

Apakah ada gambaran sebelumnya (dakwah beliau sampai ke Indonesia)! Yang pernah disampaikan oleh Sulaiman Hilmi Tunahan yang memang pada awalnya beliau dakwah di Turki, lalu ke Eropa, Afrika, dan sekarang nyatannya sekarang ada di Indonesia?
Dalam kehidupan beliau adalah seorang ulama yang memiliki pandangan yang sangat luar biasa melihat perkembangan zaman, bukan hanya di Turki, di Eropa, di Afrika, di Asia, bahkan dimanapun. Beliau memang memiliki tujuan yang sangat luar biasa itu beliau ingin meng-irsyad-kan umat manusia dimanapun mereka berada, dan  beliau pernah menyampaikan bahwa: “Akan ada waktu dimana murid-muridku dari Singapore, dari  Indonesia”. Beliau bermimpi bahwa akan ada santri-santri yang akan datang dan belajar di pesantren-pesantren yang nantinya menjadi murid-murid beliau, maka dari itu kita menganggap bahwa itu adalah salah satu kharamah yang sudah beliau tunjukan kepada murid-muridnya sekaligus memberikan pandangan dan harapan bahwa kita harus memiliki pesantren bukan hanya di Turki melainkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia, Singapore, dan Eropa seperti itu, dan itu sudah tebukti dengan ratusan negara yang merupakan cabang-cabang kita disana.

Sebagai murid Sulaiman Hilmi Tunahan yang memang belajar Agama Islam di Turki yang secara pemerintahan Sekuler bagaimana perasaan Ustadz Farhat, ketika bisa berdakwah di Indonesia. Apakah ada hal-hal yang mendorong Ustadz Farhat untuk datang ke Indonesia dan tentunya berdakwah disini ?
Apa yang kita pelajari di Turki itu ya pada awalnya memang, secara pemerintahan sekuler kami merasakan kesulitan karena agak tersembunyi namun, dengan perubahan waktu pesantren-pesantren kita merupan pesantren yang legal dan diterima oleh masyarakat, maka dari itu tantangan itu pun sudah hilang dengan sendirinya. Sehingga kondisi dan fasilitas yang kami peroleh di pesantren kita di Turki sangat luar biasa, dan artinya setiap santri berharap dan memiliki harapan bahwa semua bisa belajar disitu, maka itu saya merasa bangga dan sekaligus beruntung bisa belajar di pesantren tersebut di Turki. Dan kedatangan kami kesinipun bukan karena saya ingin atau memiliki keinginan mengajar di Indonesia, melainkan apa yang kita pelajari di pesantren sebelumnya harus kita ajarkan dan membuka pesantren-pesantren. Karena ini adalah sebuah organisasi Internasional, dan ini adalah tugas saya di Indonesia. Dengan  tugas itu saya mengaggap bahwa menjadikan suatu hikmah dan pandangan hidup saya selamanya untuk berdakwah di indonesia seperti itu.

Bagaiman perasaan Ustadz farhat, apakah ada suasana yang berbeda ketika Ustadz Farhat belajar di Turki dan mengajarkannya di Indonesia?
Apa yang saya pelajari di Turki dan apa yang saya ajarkan di Indonesia, tidak jauh beda karena sama-sama orang muslim dan memang sama ramah tamah, dan juga memiliki semngat yang sama untuk belajar, maka dari itu saya tidak begitu mendapat tantangan kecuali bahasanya yang berbeda. Namun itupun karena kami pelajari maka tidak muncul tantangan yang berarti buat kami. Dan kami merasa beruntung bisa mengajar di Indonesia, kaerna santri kita di Indonesia mereka memiliki kualitas dan semangat yang sanagt luar biasa. Itulah keunggulan Indonesia menurut saya.

Disamping sebagai seorang ulama Hz. Ustadz juga dikenal sebagai Mursyid tharikat Naqsabandi. Yang juga dalam tharikat ini mengajarkan nilai keislaman dan akhlak Rasulullah. Dalam posisi beliau sebagai mursyid apa sebenarnya yang ingin beliau perjuangkan?
Kalua dilihat perbedaan dari segi tharikat atau apa yang diperjuangkan oleh beliau, sebenarnya beliau bukan memperjuangkan tharikat itu tapi beliau memperjuangkan cara pandang kehidupan yang sesuai dengan hakikat Islam. Maka dari itu kedatangna kami disini itu adalah mencerdaskan bangsa mencerdaskan masyarakat muslim diseluruh dunia, bagaimana caranya? Ya, tharikat itu adalah salah satu cara untuk menjaga atau membuat kualitas masyarakat muslim itu jauh lebih baik. Jadi thariakat itu hanyalah perantara atau sebuah wasilah yang kita pakai untuk membuat santri kita menjadi lebih, berakhlak, dan juag lebih bertanggungjawab seperti itu. Jadi dari segi tharikat tidak ada perbedaan karena kalau kita ketahui dasar-dasar hakikatnya itu adalah satu yang baik.

Jadi sebagaiman yang tadi telah disampaikan bahwa Tharikat itu sebagai alat?
Tharikat itu bukan tujuan utama tetapi, itu adalah sebuah wasilah untuk membuat murid kita bertanggung jawab, murid kita berakhlak al-karimah.

Jika melihat konteks Keindonesiaan dakwah ini atau yang di gagas oleh Sulaiman Hilmi Tunahan ini akan di arahkan kemana, karena di Indonesia sendiri sudah banyak Organisasi atau Pesantren yang juga berdakwah dan memperjuangkan Islam, dan apa pendapat Ustadz Farhat sendiri?
Maksudnya di Indonesia sudah banyak pesantren kenapa buat pesantren lagi. Ini adalah khazanah Islam jadi boleh saja organisasi muslim Indonesia yang berdakwah di Turki dan boleh saja organisasi muslim Turki yang berdakwah di Indonesia ataupun dimanalah. Karena ini adalah kekayaan Islam, Khazanah Islam, Peradaban Islam kita, maka itu bukan memiliki kekhususan tersendiri melainkan ini adalah kualitas. Kita ketahuai Ihtilaf al-Ummati ar-Rahmah. Dan itu adalah sebuah rahmat yang luas dalam konteks ini memang menurut kami, kami memiliki keunggulan-keunggulan. Seperti, lulusan kita (1) mereka sudah hafidz al-Quran dimana mereka sudah bisa menghafal al-Quran dalam waktu yang cukup singkat. Dan rata di Indonesia memang tidak bisa seperti apa yang ada disini yakni sampai pada peringkat tersebut dan ini adalah kualitas dan kekhususan kami. (2) Kita pun sudah mendapat pengakuan dari berbagai pihak dari berbagai pesantren bahwa santri pada umumnya santri setelah mereka lulus mereka belum tentu mau uantuk menjadi Ustadz, mereka belum tentu mau berdakwah, sementara hasil usaha kami santri kami itu hampir 80%, 90% semuanya itu adalah mau menjadi ahli dakwa, mau jadi Ustadz, dan itu menunjukan bahwa ini adalah pabrik Ustadz. Boleh kita katakan seperti itu.

Apa sebenarnya yang menjadi paradigma dasar mendakwahkan Islam di Indonesia padahal di Indonesia sendiri sudah banyak pesantren-pesantren juga organisasi masa yang juga memperjuangkan dakwah Islam?
Apa yang kami berikan kepada para santri itu memang sudah sesuai dengan apa yang ada Indonesia. Yang sesuai dengan Kementrian Agama Indonesia khususnya. Maka dari itu kami merasa sudah tepat, sehingga kami pun diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat muslim di Indonesia. Kami tidak memandang mau itu organisasi Muhammadiyah, mau NU atau organisasi Islam yang lainnya. Karena menurut kami itu apa yang sesuai dengan pemerintahan Indonesia yaitu melalui Kementrian Agama Indonesia. Waktu itu kami langsung mengadakan kerjasama dengan mereka dan merekapun sudah melihat dan mengecek kebenaran kami, maka dari itu, baik dari segi paham, madzahab Ustadz disini walaupun awalnya bermadzhab Hanafi namun dengan kedatangan Ustadz kita yang memang orang Indonesia otomatis dengan sendirinya Ustadz-ustadznya sudah bermadzhab Syafi’i. Maka dari itu saya kira dari segi berbedaan pandangan, paham, Alhamdulillah kami tidak memiliki perbedaan yang manjadi masalah.

Dan apa sebenarnya yang menjadi hambatan dan peluang hidzmat/dakwah ini di Indonesia serta apa yang seharusnya dilakukan kedepannya?
Hambatan tentu pernah terjadi, pertama karena kami orang asing jadi, kami dikira mau mengajarkan paham-paham yang radikal atau apapun. Apalagi kita menberikan beasiswa ke Turki maka mereka menganggap juga anak-anak yang kami kirim itu akan menjadi teroris, Ahamdulillah sejalan dengan telah lulusnya 50 orang sudah menyelesaikan belajarnya di Turki dimana mereka tidak pernah berurusan dengan terorisme. Ini menjadi bukti kuat bahwa tujuan kita tujuan memciptakan murid yang baik dan berakhlak al-karimah dan berkualitas. Pastinya hambatan 8 tahun yang lalu telah terselesaikan dan kemungkinan akan berjalan lebih baik kedepannya. Akan tetapi hambatan mengenai dana, karena dimana ketika permintaan masyarakat sangat tinggi dan banyak sekali yang cukup bersemangat untuk belajar tetapi dana kami sangat kurang. Karena itu kami berharap masyarakat Indonesia yang mampu, mau membayarkan zakat infaq dan shadaqahnya kepada kami. Jadi sebenarnya hambatan ketika banyak yang ingin belajar tetapi mereka tidak diterima bukan merupak masalah yang sebenarnya, yang sebenarnya menjadi masalah adalah sudah tidak cukup kuotanya.

Sebagai penutup sebenarnya nilai apa yang menjadi tujuan dan selalu menjadi semangat khususnya Ustadz Farhat untuk terus berdakwah melanjutkan perjuangan Sulaiman Hilmi Tunahan. Mungkin kalau saya coba simpulkan apa sebenarnya visi misi dari Ustadz Farhat Sendiri begitu?
Saya datang ke Indonesia karena ditugaskan jadi Visi dan Misi saya sesuai sengan organisasi selama 8 tahun bertugas disini apa yang menjadi motto kami itu adalah kami ingin membentuk generasi penghafal Al-Quran. Dan sekarang yang saya ingin bahwa apa yang telah saya ajarkan kepada murid-murid yang dahulu atau awal-awal saya bisa melihat dan mengkordinasikan sehingga dakwah yang ada saat ini makin berkembang.

20 Maret 2013

Tuhan Tidak Menciptakan Kita Satu (Sama)


Oleh Soleman Siregar

Selasa, 19 Maret 2013 merupakan waktu yang tidak terlupakan bagi forum cendekiaksi. Tiap detik, menit, jam, dan hari telah berjalan, maka pada waktu itu juga akan menjadi sejarah dan awal perjalanan forum cendekiAksi. Suatu bentuk yang akan menjadi sejarah itu adalah formalisasi dari acara launching forum cendekiAksi yang dilaksanakan di Ruang Serba Guna FIS UNJ oleh teman-teman Jurusan Ilmu Agama Islam. “Islam dalam Multi Perspektif: Merekatkan Persamaan dan Mengikis Perbedaan”, itulah judul dari acara launching forum cendekiAksi yang sangat menarik untuk didiskusikan bersama, mengingat suatu realita bahwa umat itu beragam. Tuhan bisa saja menciptakan seluruh umat manusia satu, tapi kenyataannya adalah tidak, melainkan sangat beragam dan penuh perbedaan.

Ajaran Islam dalam perkembangannya sangat beragam dan multi perspektif, begitulah kira-kira makna yang bisa ditangkap dari pesan-pesan yang disampaikan oleh Abd Moqsith Ghazali selaku pembicara pada acara launching forum cendekiAksi. Seperti yang diketahui bahwa berbicara Islam, maka berbicara Al-Qur’an dan Al-Hadis. Suatu fakta bahwa dalam perkembangannya terdapat ajaran-ajaran Islam seperti tafsir, fiqih, teologi, tasawuf, dan lain sebagainya. Ajaran-ajaran Islam ini ada karena keharusan atau implikasi wajib dari pemahaman Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Maka dari itu, dalam perkembangannya juga ada Islam konservatif, seperti model Wahhabi, NII, dan HTI. Ada juga Islam tengah, seperti kaum sunni, atau Islam yang ada dikalangan pesantren. Sampai kepada Islam progresif, seperti Islam Liberal, NU, dan sebagainya. Setiap dari model-model keislaman yang ada masing-masing mempunyai jalur standar dari suatu kebenaran tertentu yang diyakininya. Hal yang sulit untuk dicegah adalah apabila ada suatu kelompok Islam tertentu dengan mengatasnamakan keyakinan atau kebenarannya mereka melakukan tindakan anarkis, seperti melakukan pemboman, pembantaian terhadap kelompok Islam yang lain (kasus Ahamadiyah atau Syiah), tindakan kekerasan, dan sebagainya. Mereka melakukan itu semua dalam rangka ingin mensucikan umat. Apabila sudah tertanam niat seperti itu, maka sangat sulit untuk mencegahnya. Karena biar bagaimanapun itu adalah bentuk suatu keyakinan yang tentu saja tidak bisa dipaksakan untuk merubahnya.

Untuk itu, keberagaman Islam pun harus dibatasi. Hal yang sekiranya tepat untuk membatasi keberagaman itu adalah dengan etika kemanusiaan. Artinya, dalam konteks penerapan suatu keyakinan, tindakan apapun yang dilakukan oleh setiap umat Muslim bisa dibenarkan menurut pendiriannya, termasuk bentuk kekerasan. Tetapi, dalam konteks etika kemanusiaan perbuatan atau tindakan seperti kekerasan yang mengatasnamakan agama itu jelas-jelas harus disalahkan dan ditindaklanjuti sebagai suatu hukuman. Karena, agama itu suci, dan sesuatu yang suci itu tidak mungkin mengajarkan bentuk kekerasan, perpecahan umat, dan sebagainya. Tuhan adalah wujud transendental-suci yang sangat mustahil bagi-Nya bisa memerintahkan suatu bentuk kejahatan atau kekerasan yang berlawanan dengan etika kemanusiaan.

Dengan demikian, keberagaman yang merupakan hukum alam (sunnatullah), adalah sesuatu yang harus disyukuri sebagai rahmat. Maka segala bentuk ajaran Islam haruslah yang dapat menghasilkan rahmat. Disebut sebagai rahmat apabila didalamnya terdapat kebaikan. Islam menghendaki kebaikan bagi umatnya, maka secara substansi setiap ajaran Islam adalah ajaran yang mengandung kebaikan. Dengan kata lain, keberagaman model Islam bisa diterima, apabila didalamnya mengandung kebaikan, persaudaraan, dan perdamaian.[]

21 Desember 2012

Soleman Siregar, Imam Hidayat*

Pendahuluan
Teologi sebagaimana yang dikatakan oleh Harun Nasution, adalah membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Setiap orang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing oleh predaran zaman.[1] Istilah teologi ini biasanya lebih dikenal dalam ilmu tauhid atau juga ilmu kalam. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang keesan Tuhan dalam pandangan Islam.

3 April 2012

Kenapa Harus Bershalawat

Ibnu Rusyd*
 
Kita sebagai manusia yang mengaku beriman dan berislam sudah semestinya cinta sama Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Coba dibayangkan, seandainya bukan karena usaha dan doa Kanjeng Nabi, ya sudah pasti kita sekarang gak ketahuan tongkrongannya. Kita sudah sepakat kok, bahwa apa yang kita sebut sebagai ajaran Islam ini, sebagai petunjuk hidup ini, yang membuat hidup kita semua lebih baik, ya awalnya dari Kanjeng Nabi itu sendiri. Kalau mau dipikir, ya kita ini ga tahu diri kalo tidak mau bershalawat pada Kanjeng Nabi. Shalawat itu kan bentuk rasa cinta kita kepada Kanjeng Nabi, ya sama kalau kita cinta pada seseorang, terus kita sebut-sebut namanya, kita ingat-ingat orangnya, ya begitu pula kalau kita cinta sama Kanjeng Nabi.

Tapi toh cinta itu adanya dalam hati, tak ada yang tahu kecuali si pencinta sama Tuhan. Banyak manusia yang mengaku cinta sama Kanjeng Nabi, tapi yo cuma di mulut saja. Sementara kita kan tahu, ucapan tanpa kenyataan ya cuma bualan, munafik kata lainnya. Tapi tak usahlah diurus. Kita saling mendoakan saja, semoga yang belum paham menjadi paham, yang paham menjadi tambah paham kalau dia harusnya sadar harus mesti tawadhu dengan pengetahuannya.

Shalawat itu bukan cuma buat nunjukkin rasa cinta sama Kanjeng Nabi, tapi ada yang lebih fundamen lagi. Begini. Kita ini cuma manusia biasa, yang ga punya apa-apa kecuali apa yang sudah dikasih sama Tuhan. Kita mesti sadar, hidup tak bakal lama, mungkin satu dua menit lagi kematian berkunjung. Kalau sudah mati mau apa, mau ngandelin apa. Amal kita tidak ada apa-apanya kalau mau dibandingkan dengan rahmat Allah buat kita. Terus ketika hari penghisaban nanti, kita mau masuk surga. Ngandelin opo. Itu dia gunanya shalawat.

Shalawat itu kita selaku wong, gondelan klambine Kanjeng Nabi, biar kita selamat. Nah mata-mata yang lagi pada baca nih paham tak apa itu gondelan klambine Kanjeng Nabi. Ini artinya, kita sebagai manusia, ya manut, ya ikut ya nurut, pegangan sama bajunya Kanjeng Nabi. Ya begitulah shalawat, biar kita bisa dapat syafaat. Cara dapetinnya ya ikut, sama Kanjeng Nabi.

Kita semua sadarlah kita ini tidak bisa diandelin, ya ga punya apa-apa kok. Kanjeng Nabi Muhammad pernah cerita, suatu ketika, ada seorang hamba Allah, yang hidup sendirian di tengah-tengah pulau kosong, yang ada di tengah samudera. Di pulau kecil itu, Cuma ada si hamba, satu sungai sama satu pohon. Kerjaan si hamba itu tiap hari Cuma ibadah saja, sujud sama Allah, taat sama Allah. Kalau haus ya tinggal minum dari sungai. Kalau lapar buahnya jatuh sendiri dari pohon. Suatu ketika si hamba yang taat ini, wafat. Trus, sudah sampai hari perhitungan, amalannya selama hidup ditimbang. Kemudian Allah perintahkan kepada malaikat untuk menanyakan padanya satu hal. Tanyakan kepada si hamba-Ku itu, karena apa dia masuk surga? Pas ditanya dia bilang, “karena semua amal-ibadahku”. Kemudian Allah bilang ke malaikat, “lemparkan dia ke neraka”. Si hamba protes, “kenapa saya masuk neraka, kan selama hidupku saya hanya pakai ibadah buat Kamu.” Allah tanya lagi, “kenapa kau masuk ke surga?” si hamba masih ngasih jawaban yang sama. Maka Allah berkata,” kau masuk surga karena rahmat-Ku” nah si hamba masih ngotot sama amal ibadahnya. Akhirnya Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang amal ibadahnya seumur hidup dengan satu nikmat bola mata. Dan ternyata lebih berat nikmat melihat itu dari pada amalnya selama ini. Lalu Allah melanjutkan, “Tahukah kamu, siapakah yang menciptakan kamu, kemudian meletakkan kamu sendirian di sebuah pulau, tapi tidak meninggalkanmu terlunta. Siapa yang menumbuhkan untukmu satu buah pohon yang setiap hari berbuah. Siapa yang mengalirkan sungai untukmu di tengah-tengah asinnya air samudera. Itu semua adalah rahmatku.” Maka si hamba pun mengaku, pas ditanya terakhir kali, karena apa dia masuk surga, dia menjawab “semua karena rahmat-Mu ya Allah.” Maka kata Allah, masukkan dia ke dalam surga-Ku.”

Begitulah, semoga kita semakin sadar setiap hari. Ya sekali-kali kita merenung memikirkan kehidupan ini, jangan terlalu terlena dimainkan sama dunia. Dunia ini tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan nikmatnya bisa menatap wajah Kanjeng Nabi kelak.

*Mahasiswa Ilmu Agama Islam 2010, Universitas Negeri Jakarta.

Demonstrasi : Solusi ataui Polusi?

Adhitya Ramadhanto*
 
Turunkan BBM! Turunkan BBM ! Itulah kata yang selalu terdengar di setiap jutaan pasang telinga masyarakat Indonesia. Dengan menyerukan penolakan kenaikan BBM yang dicanangkan oleh pemerintah menimbulkan kontroversi di setiap elemen masyarakat. Ditambah lagi dengan kaum terpelajar yaitu mahasiswa mulai menampakan sikap penolakan terhadap kebijakan pemerintah. Dan akhirnya mencuatlah sikap menentang  kebijakan pemerintah dengan aksi demonstrasi dan orasi  di berbagai wilayah Nusantara dengan semboyan:  Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Mahasiswa sebagai agent of change yang membawa perubahan suatu bangsa menuju yang lebih baik adalah cita-cita bersama. Patut disadari dan dicermati terhadap sikap pemerintah dengan mengambil kebijakan kenaikan BBM apakah suatu langkah tepat atau justru menambah kesengsaraan rakyat? Sebuah pertanyaan yang harus direnungkan bersama baik pemerintah maupun semua elemen masyarakat. Dari dasar pertanyaan di atas mahasiswa berdiri di barisan paling depan dengan membawa misi perjuangan untuk ditegakannya keadilan dan kepentingan rakyat kecil. Namun sebuah konsep yang membawa nilai-nilai keadilan haruslah didampingi oleh tindakan yang berkeadilan pula, sebab suatu nilai yang baik harus ditempuh oleh cara yang baik pula.

27 Maret 2012 isu demo besar-besaran mahasiswa mencuat di kalangan mahasiswa. Banyak sms beredar di telepon genggam dengan ajakan turun aksi dalam demo besar-besaran tersebut. Ada sebagian mahasiswa yang  bersemangat dan ada pula yang biasa saja menanggapi sms tersebut. Namun itulah dinamika sosial yang terjadi di kampus, ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi kita tidak perlu menyikapi dinamika tersebut, yang harus kita sikapi adalah peran mahasiswa dalam penyampaian aspirasi. Apakah tindakan mahasiswa memang benar-benar sesuai dengan undang-undang atau justru melanggar undang-undang?
Kalau kita cermati secara seksama fungsi demonstrasi banyak sisi manfaatnya. Selain daripada menyampaikan aspirasi rakyat, demonstrasi juga sekaligus mengingatkan pemimpin yang berbuat dzholim atau menyengsarakan rakyat. Kasus korupsi yang banyak terjadi di indonesia, kebijakan pemerintah yang menambah kesengsaraan rakyat, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Belum lagi baru saja kita lihat kemarin di televisi mengenai sidang paripurna di DPR sungguh malu dan geram melihat sikap wakil rakyat yang seperti kekanak-kanakan. Memang alangkah lucunya negeri ini, seperti judul di film bioskop 21 jika kita sadari seksama kasus diatas .

Kembali lagi ke topik awal berkaitan demonstrasi, demonstrasi solusi atau polusi sih ? kalau menurut hemat saya demonstrasi sama halnya dengan sebuah pisau. Bermanfaat dan merugikan, tidak lepas dengan si pemegang pisau, apakah dia seorang juru masak, atau justru seorang pembunuh? Demonstrasi bisa dikatakan solusi jika caranya baik, dan polusi jika cara penyampaianya buruk. Dikatakan baik jika tidak ada yang dirugikan, dan dikatakan buruk jika banyak yang dirugikan. Namun semua huruf yang menjadi kalimat diatas merupakan sebuah opini dari sang penulis yang hingga kini masih mengembara di negeri penuh misteri. Mungkin ada sebuah syair sebagai penutup tulisan sederhana ini.

Mau dibawa kemana Tinta merah darah para pejuang?
Mau dibawa kemana Teriakan seorang ibu yang terkulai lemas?
Mau dibawa kemana Hamparan emas penuh derita?
Dan Mau dibawa kemana negara ini ??

Jawabnya ada dihatimu wahai pejuang muda!!
Berjuanglah karena cinta, bersabarlah karena ikhlas, dan bersemangatlah karena impianmu
Dan haruslah semua itu karena Allah wahai pembawa perubahan!

*Mahasiswa Ilmu Agama Islam 2010, Universitas Negeri Jakarta.

2 April 2012

Banyak Bertanya Bukan Kritis

Ibnu Rusyd*

Dari Mughirah bin Syu’bah Ra beliau berkata: Aku mendengar Nabi Saw bersabda; Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga perkara pada kalian yaitu; 1) Banyak bicara ( yang tidak bermanfaat ), 2) Menghambur-hamburkan harta, dan 3) Banyak bertanya. ( HR. Bukhari dan Muslim )

Dalam hadits lain ditegaskan; Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena mereka banyak bertanya dan membantah nabi-nabi mereka.       ( HR. Bukhari dan Muslim )

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits Rasul Saw diatas, terutama tentang bagian banyak bertanya adalah sebagai berikut. Ketika seorang manusia mengaku sebagai seorang muslim, atau dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah semestinyalah dia menerima dengan penuh ketaatan kepada perintah dan segala hal yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh generasi awal Islam yang hidup bersama Rasulullah Saw. Dikarenakan mereka beriman seutuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka selalu menaati perintah Rasul Saw. Dan tidak ada satupun perintah Allah dan Rasul-Nya, melainkan demi kebaikan umat manusia.

Kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits yang kedua bahwa, kehancuran yang menimpa umat-umat sebelum umat Islam adalah karena mereka banyak bertanya dan membantah nabi-nabi mereka. Ya, setiap datang perintah dari Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, mereka menanggapinya dengan banyak bertanya, yang sebenarnya bukanlah pertanyaan yang perlu. Dan pertanyaan mereka, pada ujungnya hanya membawa mereka pada sikap membantah perintah Allah dan Rasul-Nya, alias tidak melaksanakannya.

Sebagaimana tersebut diatas, banyak bertanya yang dimaksud adalah, banyak menanyakan sesuatu yang tidak penting. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan. Yang nantinya hanya akan menyulitkan diri mereka sendiri. Ini sama sekali bukan sikap yang baik.

Yang menjadi maksud hadits diatas adalah, ketika datang perintah dari Allah dan Rasul-Nya, maka, didasari kepada iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kita menerimanya. Ketika perintah itu datang, maka kita memperhatikannya dengan seksama dengan tujuan menaatinya. Inilah yang dimaksud dengan perkataan سمعنا و اطعنا  ( kami mendengar dan kami taat ). Dalam kata lain, ketika datang perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kita menyimaknya dan memperhatikannya, dan menaati perintah itu. Bukan hanya sekadar mendengar, lalu berlalu begitu saja, tanpa berujung ketaatan. Hal yang biasa terjadi pada umat yang banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu adalah, karena mereka tak menyimak apa yang diperintah kepada mereka. Kemudian karena kebodohan mereka, ditambah kesombongan mereka, kemudian mereka pun tidak menaati perintah tersebut.

Namun ini bukanlah berarti dilarang bersikap kritis. Dalam hal ini perlu dikoreksi pengertian kritis. Sifat kritis itu bukan hanya sekadar banyak bertanya. Ini bukanlah kritis. Kritis itu adalah sifat meneliti dengan seksama, mencoba memahami sedalam-dalamnya terhadap suatu hal. Namun caranya bukan banyak berkata-kata, bertanya-tanya. Bertanya dilakukan pada tempatnya. Setelah buntu dalam memahami, dan setelah tidak ditemukan lagi jawaban-jawaban yang lengkap.

Di sini perlu diingat bahwa, ketika menghadapi urusan-urusan agama, bahkan dalam semua urusan. Janganlah mengedepankan hawa nafsu. Jangan memperturutkan kemauan sendiri, yang ujungnya hanya akan membawa kepada kehancuran. Hal itulah yang dilakukan umat-umat terdahulu ketika mereka tidak mau menaati Rasul mereka, dikarenakan mereka selalu memperturutkan hawa nafsunya, dan enggan untuk patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

*Mahasiswa Ilmu Agama Islam 2010, Universitas Negeri Jakarta.